Mengganggu dan memulihkan ekspresi gen terkait ASD pada tikus mengubah kemampuan bersosialisasi

gen

Sebuah tim peneliti yang berafiliasi dengan berbagai institusi di Boston telah menemukan bahwa mengganggu dan memulihkan ekspresi gen yang terkait dengan gangguan spektrum autisme (ASD) pada tikus dapat mengubah tingkat kemampuan bersosialisasi mereka. Dalam makalah mereka yang diterbitkan di jurnal Ilmu Saraf Alam, kelompok tersebut menjelaskan eksperimen yang mereka lakukan dengan kemampuan bersosialisasi pada tikus dan mengapa mereka percaya temuan mereka dapat berdampak pada pengobatan masalah sosialisasi pada orang autis.

Salah satu ciri umum yang terlihat pada orang dengan ASD adalah kesulitan dalam membedakan antara diri sendiri dan orang lain—suatu sifat yang mengganggu keterampilan sosial. Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa beberapa gen terkait autisme berada di balik sifat-sifat tersebut, yang selanjutnya menunjukkan potensi terapi untuk membantu pasien tersebut dengan sosialisasi. Dalam upaya baru ini, para peneliti melihat gen yang disebut SHANK3, salah satu gen yang terlibat dalam gangguan sosial pada beberapa orang autis. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang dampaknya, para peneliti merekayasa genetika tikus uji untuk mengaktifkan gen menggunakan obat tamoxifen.

Para peneliti pertama-tama menempatkan sensor pada tikus yang direkayasa dan tidak direkayasa untuk memantau aktivitas saraf, kemudian menempatkannya di kandang dalam kondisi yang berbeda untuk menguji kemampuan bersosialisasi mereka dengan cara yang berbeda. Salah satu metode, misalnya, melibatkan hanya satu dari pasangan untuk mendapatkan akses ke makanan.

Dalam melihat perilaku dan respons saraf pada tikus yang direkayasa, para peneliti menemukan 38% sel di korteks prefrontal mengkode selama pengalaman yang hanya melibatkan tikus saja dibandingkan dengan 9% pengkodean selama pengalaman yang melibatkan tikus lain. Mereka juga mencatat bahwa tikus yang direkayasa jauh lebih tidak bersosialisasi daripada teman kandangnya yang tidak direkayasa. Para peneliti juga menemukan bahwa mengaktifkan gen SHANK3 dengan tamoxifen meningkatkan kemampuan bersosialisasi pada tikus yang direkayasa dan juga menyebabkan perubahan dalam proporsi neuron yang terlibat selama berbagai pengalaman—mereka lebih mirip dengan tikus yang tidak direkayasa. Mereka juga menemukan bahwa mengaktifkan gen SHANK3 hanya di korteks prefrontal daripada di seluruh otak menghasilkan hasil yang sama. Temuan ini dapat digunakan untuk menyelidiki terapi bagi pasien ASD untuk membantu mereka meningkatkan keterampilan sosial mereka.

Detonic